post

Imam Nahrawi Berikan Komentarnya Terkait Keputusan PSSI

Mungkin bagi Aremania atau suporter dari klub sepakbola asal Malang, Arema FC, Yuli Sumpil bukanlah sosok asing. Ya, dia adalah conductor atau dirigen suporter Aremania kala Arema FC berlaga, baik di saat tandang di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, di Stadion Gajayana Malang ataupun saat tandang.

Hanya saja, ‘karir’ Yuli yang dikenal juga dengan nama jhoelez atau jules sebagai seorang conductor suporter harus berakir. Hal itu bertepatan dengan diputuskannya sanksi kepada dirinya dan Fandy oleh PSSI berkaitan dengan aksinya saat laga panas antara Arema FC yang menjamu Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan pada hari Sabtu (6/10) lalu.

Pada saat sebelum laga dimulai, Yuli kedapatan turun ke lapangan dan memberikan provokasi kepada pemain Persebaya Surabaya. Tidak ada kontak fisik yang terjadi, namun menurut pihak Komite Disiplin PSSI, aksi Yuli dan Fandy tersebut mengganggu para pemain Persebaya yang sedang berlatih dan hal tersebut sudah tercantum pada aturan PSSI.

“PSSI memastikan setiap pelanggaran disiplin kompetisi mendapatkan sanksi. Tidak ada toleransi,” Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono.

Terkait dengan hukuman terhadap dirinya itu, Yuli mengaku pasrah dan tidak akan melakukan banding. Hanya saja dia tidak terima jika Arema FC harus juga menanggung imbas dan turut mendapatkan sanksi.

Baca Juga: Duka Arema FC, Tanding Kandang Tanpa Penonton dan Pelatih

Menurutnya, apa yang dilakukannya itu adalah spontanitas dan sama sekali tidak berbahaya jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para suporter Persebaya Surabaya di Surabaya saat Arema FC bertandang di leg pertama sebelumnya. Bahkan salah satu maskot dari Persebaya Surabaya terekam kamera mengacungkan jari tengah sebagai bentuk penghinaan kepada para pemain Arema FC yang sedang berlatih di pinggir lapangan sebelum laga dimulai.

Imam Nahrawi

“Saat itu yang saya lakukan memang spontanitas dan emosional. Saat Arema main di Surabaya itu lebih parah. Bahkan ada maskot mengacungkan jari tengah juga. Juga ada pelanggaran lain,” kata Yuli.

Selain itu, Yuli juga mengkritisi aturan PSSI yang mengatakan bahwa ada nyanyian bernada rasis yang dinyanyikan Aremania saat laga antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya itu. Menurut Yuli, harusnya ada aturan yang benar-benar jelas beserta contohnya agar tidak hanya sekadar gambaran saja. Hal tersebut membuat banyak pihak menilainya sebagai bentuk ambiguitas.

“Menurut saya, aturan untuk suporter memang harus ada, dan harus  jelas. Contohnya soal nyanyian yang tidak boleh itu apa saja. Itu agar semuanya jelas,” lanjutnya.

Menanggapi masalah tersebut, Imam Nahrawi selaku Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) memberikan pernyataannya yang sedikit ada sindiran di dalamnya. Menurut Imam Nahrawi, setelah sanksi yang dijatuhkan kepada Yuli dan Fandy ini, maka PSSI tidak boleh berbuat tidak adil dan harus menerapkannya ke semua elemen suporter di Tanah Air.

“Kalau sudah PSSI begitu, sudah tinggal lihat saja nanti seperti apa. Dan ini tidak hanya berlaku pada Arema FC, tapi semua klub, semua suporter yang bertindak di luar regulasi dan ketentuan yang ada. Imam Nahrawi mengingatkan PSSI, sanksi yang dijatuhkan pada klub sepak bola harus adil dan tidak boleh pilih kasih. Kalau sudah diberi sanksi dengan adil, maka harus diikuti, tapi kalau sanksinya tidak adil, itu menjadi beban baru bagi konsolidasi antar klub, antar suporter. Tujuan adanya sanksi berat tersebut diharapkan akan mengakibatkan efek jera, sehingga ujung-ujungnya suporter bisa damai dan bersatu,” kata Imam Nahrawi.

Sesuai dengan keputusan yang sudah dijatuhkan oleh PSSI, maka Yuli dan Fandy tidak lagi boleh datang dan menonton pertandingan sepakbola di seluruh Indonesia yang diselenggarakan oleh PSSI selama seumur hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *